Sabtu, 30 Agustus 2008

Menangislah...



Anda mungkin pernah mendengar ada orang yang bilang " Jangan pernah menangis... karena menangis tidak akan pernah menyelesaikan persoalan!"
Hmm, sebenarnya tidak ada yang salah dengan pernyataan tersebut. Karena memang pada umumnya hampir dari kebanyakan perempuan, langkah tersebut adalah langkah yang paling mudah untuk dilakukan. Menangis...

Dan dari kebanyakan orang yang mengenal aku, aku bukanlah salah satu dari kebanyakan perempuan yang suka menangis. Waktu kecil, mungkin iya... namun seiring berjalannya waktu, aku selalu menilai menangis adalah suatu tindakan bodoh yang suka dilakukan oleh para perempuan. Menangis memang tidak akan pernah menyelesaikan persoalan... Jadi,kenapa juga mesti menangis??

Tapi mari kita berdiam sejenak....Kapan terakhir kita menangis? Karena sebab apakah? Apakah karena ; Kesedihan yang mengabut hati? Kekecewaan yang menuba rasa? Kesakitan yang tak terkira? Empati yang perlahan menelusup lalu menikam kesadaran? Kebahagiaan yang muncul tak terduga-duga? Gelak tawa yang mengguncang perut, Keterharuan manakala begitu banyak cinta yang diberikan dari orang-orang disekeliling kita? Atau Ketidak berdayaan kita ketika teringat jejak diri saat bersimpuh menghiba pada Sang kuasa? Yang manakah?

Berbahagialah kita yang masih dapat menangis oleh sebab apapun. Karena kemampuan menangis menandakan bahwa hati si penangis masih memiliki kadar kelunakan. Namun kerap kali menangis oleh alasan yang terlalu remeh juga tak baik. Maka menangis-lah yang baik (wah ada juga menangis yang baik) walaupun semestinya menangis juga harus diperuntukkan untuk hal yang bisa dipertanggungjawabkan.

Mungkin kita butuh waktu panjang untuk bangkit bersama kesembuhan...
Karena setiap kita punya masa silam. Baik yang indah hingga asyik untuk dikenang, maupun yang legam yang bikin kita geregetan ingin menghapusnya dari ingatan.
Jadi, ketika kita ingin menangis... menangislah....

Karena airmata adalah milik semua orang.Tak ada larangan seseorang untuk menangis. Anak kecil, orang dewasa,orang tua, laki-laki maupun perempuan. Airmata adalah ekstase pelepasan sesaknya dada menuju ringannya beban yang menghimpit. Airmata adalah bahasa murni yang sangat manusiawi.Airmata adalah nilai kesantunan dalam menterjemahkan perasaan yang tidak bisa kita lihat.Dan airmata merupakan energi murni yang mampu memberikan dorongan pembebasan.

Jadi sekali lagi, menangislah.... jika anda merasa perlu untuk menangis...


Kamis, 21 Agustus 2008

PERCAYA....







"Namun aku Percaya, pasti ada Cahaya...
Yang kan menuntun langkah-ku,kembali padaMu,
Jalan yang benar... "

Itu adalah penggalan lagu CAHAYA yang ditulis oleh seorang anak muda bernama Elia Bintang, musisi yang sebentar lagi aku percaya akan dapat merubah blantika musik di Indonesia.
Thanks,El.. buat support & komentar kamu selama ini. Dan selalu menjadikan blog-ku semakin berwarna dengan adanya kebersediaan-mu untuk mengajarkan aku.. :)



*PERCAYA*
Dalam satu masa dalam hidup kita, kita pasti pernah didera oleh bertubi-tubi guyuran hujan permasalahan. Sehingga seakan-akan tubuh kita terendam oleh air bah masalah sampai batas dagu yang sudah coba kita tegak-tegakkan namun adakalanya kita tak lagi mampu bertahan.

Akibatnya bernafas pun susah. Maka pada titik ini kesadaran logika menipis. Ke
percayaan pada kemampuan diri mulai pupus. Pikiran dan hatipun berusaha mencoba menggapai-gapai sepotong papan untuk berpegang pada harapan agar air bah masalah tidak menenggelamkan kita. Dan alih-alih kita merasa mampu mengentaskan diri kita ke daratan penyelesaian.

Dalam pusaran badai seperti ini, kita
percaya bahwa sepotong papan itu adanya di sana. Di luar diri kita. Diri sendiri tak lagi berarti apa-apa, tak lagi punya kekuatan apa-apa. Seperti sebatang pokok pisang yang hanyut di aliran sungai. Lemah, pasrah lagi tak berdaya. Tiada kuasa.

Kita merasa bahwa diri kita telah tiba di titik nadir yang paling rendah serendah-rendahnya. Dan pada remang kesadaran, sering berkelebat banyak sinar yang tampak bagai cahaya terang. Semua terlihat sebagai cahaya keluar. Padahal cahaya demikian beraneka spektrumnya. Kesempitan serta kelemahan kita tentu tak mampu menanda mana cahaya yang sebenar-benarnya. Kecuali Sang Pemilik Cahaya berkenan menunjukkannya.

Tapi
Percaya-lah ketika kita tak mampu untuk mempercayai siapa2 lagi, hanya ada satu Kasih yang tidak dapat kita pertanyakan, yang sudah jauh mengerti & menyelami perasaan juga kelemahan kita. Dia yang akhirnya menggendong kita dalam ketidak berdayaan kita.Yang selalu membangkitkan serta tidak pernah membiarkan kita jatuh tergeletak. Jadi mari kita percaya walaupun kita tidak punya dasar untuk percaya... Yang jauh melebihi dari apa yang kita pikirkan. Yang akan membawa-mu ke gerbang sukacita yang tiada berujung...




Sabtu, 16 Agustus 2008

Cuplikan dari Soneta XVI










Pablo Neruda (Chili,1904-1973)

Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana, atau kapan, atau darimana;
Aku mencintaimu dengan lugas, tanpa masalah atau rasa bangga;
Aku mencintaimu begini sebab tak tahu cara lain untuk mencinta.

Kecuali yang ini, yang tanpa aku dan tanpa kamu,
begitu dekat sehingga tanganmu yang di dadaku serasa tanganku,
begitu dekat sehingga kalau aku tidur yang terpejam tak lain matamu.

Rabu, 06 Agustus 2008

Lewati Sangkar Imajinasi-mu...






Pernahkah anda berpikir, berapa banyak burung yang sampai mati berada dalam sangkarnya mengira bahwa atap sangkarnya merupakan langit ? Kalau anda pernah melakukan hal ini, maka anda melakukan hal yang sama dengan Ojiman Dino, seorang ahli dalam hal salesmanship.

Banyak burung yang dari lahir sampai mati berada di dalam kerangkeng sangkarnya. Sehingga menganggap dunianya hanya di dalam sangkarnya. Dan mengira bahwa warna cat biru di atap sangkarnya adalah langit sebenarnya. Padahal tidak demikian.

Dan hal tersebut kerap terjadi pada kehidupan kita. Kita tidak mau mencoba sesuatu yang baru, karena kita mengganggap ada batas-batas yang memagari kita. Kita tidak mau melewati pagar-pagar imajinasi tersebut. Kita selalu beranggapan, "Saya tak mungkin melakukan hal itu", "Saya hanya terbatas pada bidang ini", "Saya hanya bisa jadi di bagian administrasi saja", "Saya tidak mungkin bisa karena saya tak punya pengalaman", " Saya tidak mungkin pindah,karena saya sudah lama disini", dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan
tidak yang ada didalam benak kita.

Sebenarnya pagar imaginasi itu adalah pikiran kita. Pikiran-lah yang membatasi dunia dan langit kita. Jadi mulailah bebaskan pikiran kita dengan melewati sangkar imajinasi-mu. Beranilah untuk lepas dari sangkar. Dan mulai biasakan habit / kebiasaan positive thinking dan selalu berkemauan untuk berani berpikir tentang hal-hal yamg sebelumnya kita anggap tidak mungkin terjadi dalam kehidupan kita. Sehingga kita tidak akan menganggap bahwa cat biru di atap sangkar adalah langit sebenarnya.



Minggu, 03 Agustus 2008

Diam...








Hari Ini hari ke-3 di bulan agustus di tahun 2008. Berarti kita semua sudah memasuki hari ke-dua ratus enam belas di tahun ini. Aku mencoba merenung, berdiam bahkan berdialog dengan diriku sendiri sambil bertanya,"Sudah sejauh mana-kah aku menulisi hidup aku di mata Tuhan?".

Setiap manusia dilahirkan dengan sebuah kelengkapan perasaan. Ada suka ada duka, ada sakit ada kenikmatan, ada kecintaan ada kepedihan, ada manis ada pahit, ada kebahagiaan dan ada kesedihan. Mereka datang sebagai saudara kembar, yang datang silih berganti menjenguk dan menemani kita untuk membesarkan diri serta jiwa kita.

Jadi, bila saat ini Dia mengijinkan kita untuk melewati hal-hal yang tidak kita inginkan...yang tak terduga dan tak pernah terpikirkan sebelumnya... Apakah kita harus terus menerus mempertanyakan? Bersembunyi lalu menghilang? serta berdalih dengan beribu alasan?

Aku akan belajar untuk diam dan rasakan. Mencoba untuk tersenyum serta menikmati dengan tulus untuk setiap kejadian yang datang di dalam hidupku. Mencoba membiarkan dirinya pergi walau hati tak mengijinkan, mencoba membiarkan hatiku dirawat oleh sang khalik agar tak bertebaran.


*Agustus 3,2008
Ketika tidak ingin tersenyum, tapi lakukanlah juga...