Minggu, 28 September 2008

:: SePhiaLovE









SePhiaLove,
EngkAu SelAlu MenjAdi KejoRa CinTaku,
DalAm MaLam VirTual ImAjimu MenGgebu,
DeNgan SelakSa GeloRa Kau NodAi DiaMku...

Kau MendEkat, MemiKat dan MeNjeRat
MengAjakku NikmaTi MalAm TaNpa BaTas
MenumPahkAn SegaLa RinDu Yang MemuNcak
MenjamAhi Aku DalAm GenangAn AsmaRa HinGga KlimAks

Aku TerkesiAp,TeRjerEmbAb dan TakTerkeNdali,
MemeLuk Erat HinGga Tak Ingin KuLepAs
SepHiaLove, JangAn Kau PerGi
BiarkAn Aku TiduR dan TerLelap BersamAmu...




September 26, Tersimpan buatmu selalu...

Rabu, 24 September 2008

:: Gone but Not Forgotten!






Pertama kali mendengar buku dengan judul Chicken Soup for the Soul, tidak ada satupun kesan khusus yang membuat aku tertarik dengan buku ini. Namun, begitu menemukan ada banyak sekali penulis, pembicara dan konsultan kejiwaan yang mengutip buku ini, aku coba membaca buku ini secara cepat di toko buku.Dan ternyata aku malah tertarik dan keterusan sehingga membeli seluruh seri buku ini.

Ada banyak cerita dan pengalaman menarik, ditulis oleh banyak sekali orang yang mau berbagi pengalaman kehidupannya. Sungguh, disamping gaya bertuturnya yang tidak menggurui, buku ini banyak sekali memberi inspirasi buat aku.

Ada sebuah cerita yang mengendap terus di benak aku sampai sekarang. Seorang anak yang merasa memberi terlalu sedikit untuk sang Ibu selama hidup, suatu hari datang ke panti jompo tempat sang ibu dititipkan untuk pertama kalinya. Menyadari bahwa salah satu kesenangan ibu ini memakan es krim, maka dibawa sertalah beberapa es krim. Karena umur yang demikian tua, Ibu itu tidak lagi mengenali siapa-siapa. Kendati diajak bicara dengan suara keras sekalipun, ia tidak akan dengar.

Sesampai di panti jompo, sang anak memperkenalkan dirinya bahwa ia adalah puteri bungsunya. Sebagaimana jawaban kepada setiap orang yang datang, Ibu ini hanya bisa menjawab dengan tersenyum. Ketika es krim diletakkan ke tangan sang ibu, langsung saja ia memakannya dengan penuh kenikmatan. "Senang sekali rasanya melihat ibu enak memakan es krim pemberianku." demikian anak ini menulis. Beberapa menit setelah es krim ini habis, Sang Ibu menoleh ke anaknya sambil berucap lirih "Betapa nikmatnya hidup ini jika saya memiliki puteri sebaik anda." Dengan airmata yang tidak dapat ditahan,pemberi es krim tadi pergi ke toilet sambil menangis. Dan yang membuat cerita ini mengharukan, sesaat setelah kembali dari toilet, Sang Ibu sudah menghembuskan napasnya yang terakhir.

Cerita riil ini sungguh menggugah aku. Dengan rasa syukur kepada Tuhan, aku merasa beruntung membaca kisah ini tatkala Ibu kandung dan Ibu mertuaku masih hidup dan masih mengenali anaknya. Sebagai manusia biasa, kedua Ibu yang amat berharga bagi aku ini, memang mempunyai banyak kekurangan. Namun setelah membaca cerita diatas, aku berjanji kepada diriku sendiri untuk memberikan sebanyak mungkin yang aku punya kepada mereka berdua.

Aku tidak tahu, apakah anda tergugah/ tidak dengan cerita diatas. Namun Stephen Covey pernah memberikan pertanyaan yang amat menggugah disini "Anda ingin dikenang sebagai manusia yang macam apa?".

Dan seperti yang kalian tahu, aku sudah dua kali melewati arti kehilangan yang teramat berat didalam hidup aku. Pertama ketika aku kehilangan papa-ku. Kedua ketika kehilangan kakak tertua-ku akibat kanker nasofaring. Ada banyak airmata yang terbuang, tetapi itu tidak akan membuat mereka kembali. Aku menangisi bukan karena aku merasa kurang memberikan hidup dan seluruh cintaku buat mereka, tetapi aku menangisinya justru karena aku merasakan begitu banyak yang aku dapati ketika aku hidup bersama mereka dan karena aku diberi kesempatan untuk merawatnya.

Jadi, selagi kita mampu dan dapat melakukan apa saja buat orang-orang disekitar kita...mengapa tidak kita lakukan selagi kita bisa? Tebarkan harum cintamu buat musuhmu sekalipun, biarkan kehadiranmu selalu memberikan warna kehidupan yang berbeda.

Proverbs 3:27
Do not withhold good from those who deserve it, when it is in your power to act.


September 24,2008
- Sayang-ku buat alm.koko-ku,beben... aku tahu,Dia tak akan membiarkan kamu menahan sakit yang berkepanjangan. Dan Dia juga tahu,tanganku tak cukup kuat untuk mengusap punggungmu setiap malam. I love you,bro...
- Yiyi* kangen,pa...
(*) nama manjaku dari papa




Selasa, 23 September 2008

:: Di Lembar Buku Itu







Aku merasa bersyukur karena di saat aku baru mulai belajar menulis dengan pensil... apabila aku salah menulis, aku masih bisa menghapusnya dengan karet penghapus berwarna merah yang menempel di ujung pensil.

Sedangkan ada beberapa teman aku, dengan susah payah menghapusnya dengan karet gelang yang dililitkan di ujung pensil, lalu menggosoknya dengan ujung jari. Alih-alih bersih, tulisan malah menghitam bahkan kadang halaman buku disitu robek berlubang. Namanya alternatif, serba darurat, hasil hapusannya pun tak sebersih penghapus sungguhan.

Ketika sekolah menengah, menulis tak lagi menggunakan pensil. Sudah memakai bolpoin atau pulpen. Tetapi kesalahan tetap saja terjadi. Yang kerap terjadi adalah salah menjawab soal sewaktu ulangan. Dan guru, tak mau melihat kertas jawaban penuh coretan. Mereka akan mengurangi nilai ulangan yang jawabannya tak rapi apalagi penuh dengan coretan. Maka siswi - jarang sekali siswa - yang terkenal lengkap alat tulisnya menjadi sasaran favorit untuk dipinjami penghapus.

Lalu muncul cairan penghapus yang warnanya putih pekat. Pertama kali keluar mereknya
Tip-X dalam botol kecil. Cara memakainya disapukan seperti kuas. Kemudian ada lagi berbagai merek lain dengan inovasi baru. Tak lagi seperti kuas yang sering bikin tangan belepotan, tapi ditekan seperti tube pasta gigi. Meskipun banyak merek baru, tetap saja disebut sebagai tip ex. Khasiatnya sama mujarab, menghapus kesalahan tulis yang mengganggu.

Jadi, kalau hari-hari boleh diibaratkan sebagai lembaran buku. Maka pikiran, ucapan dan tindakan adalah pensil atau bolpoinnya. Dan sepanjang mata dan otak terjaga...
pensil itu berulang-ulang menulis dan menulis. Pasti dari sekian banyak huruf yang dituliskan, ada juga terjadi kesalahan. Entah sadar atau tidak. Entah terketahui atau tidak.

Dan aku hanya ingin memastikan bahwa kita tidak memakai pensil atau bolpoin itu dengan sembarangan. Sebab jika terjadi kesalahan dengan apakah kita akan menghapusnya?


Rumah hijauku september 2008,
ketika kuketahui lembar buku-ku robek berlubang


Rabu, 17 September 2008

:: Mengapa Kita (memilih) Berbohong?






“Bukan berbohong... hanya tidak mengatakan yang sebenarnya,” kata salah satu temanku.

Hmm... menurutku tidak mengatakan yang sebenarnya itu sama saja dengan berbohong. Biarlah untuk sementara kata ‘berbohong’ digeneralisasi dulu. Jadi, mengapa meski kita tahu bahwa berkata jujur itu baik tapi kita masih saja (memilih) untuk berbohong?

Berkata ya padahal tidak. Berkata baik-baik saja padahal tidak. Berkata setuju padahal tidak. Berkata bagus padahal tidak. Berkata suka padahal tidak.

Ya, mengapa kita (memilih) untuk berbohong?

Menurut sahabat aku, ada beberapa alasan mengapa mereka (memilih) untuk berbohong. Ada yang mengatakan tidak mau menyakiti perasaan orang lain. Karena terpaksa. Karena tidak mau menyusahkan orang lain. Karena ingin membahagiakan orang lain. Karena itu pilihan yang terbaik. Karena dengan berbohong masalahnya akan lebih cepat selesai. Karena kejujuran itu akan membuat segalanya berantakan dan hanya memperumit keadaan. Dan masih banyak segala macam ‘karena’ lainnya yang tak ada habis-habisnya.

Tetapi aku pikir, kita terkadang atau seringkali (memilih) untuk berbohong karena kita sebenarnya sungguh-sungguh ingin mempercayai kebohongan itu. Karena kebohongan itu terdengar menyenangkan dan bisa membuat bibir menyunggingkan senyuman.

Lalu, bagaimana dengan Anda? Mengapa Anda (memilih) untuk berbohong?



Senin, 15 September 2008

:: Sepotong Cinta Berwarna Blackcurrant










Dulu sewaktu aku kecil, aku punya satu kebiasaan... setiap kali aku berjalan, aku suka sekali memungut dan mengumpulkan bayangan. Orang bilang kerjaan seperti ini adalah memulung bayang-bayang.
Bayang-bayang yang aku pulung, selalu aku simpan baik-baik di bilik almari memori-ku. Masing-masing aku tandai, biar mudah apabila suatu saat aku mesti mencari.

Dan menurut orang tua-ku, akulah yang paling rajin mengingatkan mereka untuk setiap momen. Aku dikenal sangat berhati-hati dengan segala yang aku punyai...bahkan juga aku dianggapnya cenderung posesif karena terlalu takut untuk tersakiti. Hmm... suatu hal yang terdengar amat sangat egois!!

Aku hanya tahu cinta itu putih warnanya. Tidak boleh yang lain. Padahal cinta tak pernah berwarna putih atau merah jambu. Mungkin saja cinta itu abu-abu,
blackcurrant, atau setidaknya marun.

Walau tak mudah bagiku untuk mengeluarkan apa yang sudah tertata rapi di bilik almari memori-ku. Namun setidaknya, kini aku sudah mulai mencoba belajar untuk menerima bahwa cinta tidak selamanya punya warna yang sama.



* satu episode cinta yang mudah dimulai tapi tidak dapat (kamu) selesaikan... >>benarkah??




Selasa, 02 September 2008

:: Silahkan memilih (lagi)









Kemarin, aku dihadapkan pada pilihan. Rumit atau tidak, sebenarnya itu tergantung dari cara kita melihatnya. Singkat kata, aku harus memilih!! maju sekarang atau menundanya untuk satu tahun ke depan. Lazimnya tiap pilihan, keduanya memiliki konsekuensi.

Akupun sedang berusaha memisahkannya diri dari pengaruh emosional. Dari keinginan-keinginan dan target pribadi serta dari bisikan-bisikan surga yang mengecoh kejernihan. Aaahh...hampir hilang jatah tidurku malam ini...

Telah terpikir untuk meminta pertimbangan dari yang lebih ahli. Sebab perkataan bijak selalu berkata, tanyalah persoalan pada ahlinya. Namun sayangnya waktu tak cukup banyak. Sementara bertanya pada ahli, memerlukan waktu.

Rasanya aku harus lebih keras berusaha. Berfikir dan menjernihkan hati. Itu saja rasanya.