“Bukan berbohong... hanya tidak mengatakan yang sebenarnya,” kata salah satu temanku.
Hmm... menurutku tidak mengatakan yang sebenarnya itu sama saja dengan berbohong. Biarlah untuk sementara kata ‘berbohong’ digeneralisasi dulu. Jadi, mengapa meski kita tahu bahwa berkata jujur itu baik tapi kita masih saja (memilih) untuk berbohong?
Berkata ya padahal tidak. Berkata baik-baik saja padahal tidak. Berkata setuju padahal tidak. Berkata bagus padahal tidak. Berkata suka padahal tidak.
Ya, mengapa kita (memilih) untuk berbohong?
Menurut sahabat aku, ada beberapa alasan mengapa mereka (memilih) untuk berbohong. Ada yang mengatakan tidak mau menyakiti perasaan orang lain. Karena terpaksa. Karena tidak mau menyusahkan orang lain. Karena ingin membahagiakan orang lain. Karena itu pilihan yang terbaik. Karena dengan berbohong masalahnya akan lebih cepat selesai. Karena kejujuran itu akan membuat segalanya berantakan dan hanya memperumit keadaan. Dan masih banyak segala macam ‘karena’ lainnya yang tak ada habis-habisnya.
Tetapi aku pikir, kita terkadang atau seringkali (memilih) untuk berbohong karena kita sebenarnya sungguh-sungguh ingin mempercayai kebohongan itu. Karena kebohongan itu terdengar menyenangkan dan bisa membuat bibir menyunggingkan senyuman.
Lalu, bagaimana dengan Anda? Mengapa Anda (memilih) untuk berbohong?