Kamis, 27 Agustus 2009

Today is my son's first full day as 17-year-old

















He drives now, is considering colleges or university next year. He had an internship as a successful salesman in Jakarta Fair July 2009 with Oxone kitchen utensils company for 1 month during his school vacation and is ready to have another great internship already lined up for his senior year. He’s also taller than me, which I still think he would be taller and more handsome.

Sometimes it is such a shock to see him walking into a room. I see him shaking hands and conversing comfortably with other adults and I have to remind myself: He is a man now.

It is a hard fact for a mother to accept. I still think of the toddler who fell asleep every night with a soft sponge and an airplane toy in each hand. I think of him, fresh from the bath, running around in Batman and Superman pajamas; and of him kissing his new baby sisters (he has 2 sisters) on the head when we brought them home from the hospital. (I also remember years later when I was pregnant with his little sister. He asked how the baby got in my stomach, and when I told him, I remember the happy look on his face. He often brought up the subject because he wants a younger brother.)

I remember his first day of school and him being shy and tense, and running up and down the school yard and small soccer field, not to mention falling down, singing at his elementary school graduation and earning assignments for taking care new students at the student camps and orientations, and little kids on the Vacation Bible School in his junior year.

But now he is at 17. I know I should be proud. I know this is exactly what I signed on to do when I got pregnant – raise a man or woman to be independent, responsible, mature and self-sufficient. But now, that the time is nearing when he’ll leave home one day, next year. I get teary and want to cling to every minute he is still here with us.

Happy birthday, Philip! We couldn’t be prouder of you. But please, take it easy on your older daddy and mom’s instant creativities and thoughts. Also don’t get tired with our life-lesson lectures. I want you to know that dad and I celebrate each of your accomplishment and step you take with you, but I wonder if I will ever be able to separate the little boy you were from the man you have become now (pardon me for this, son). So if I get teary sometimes for no reason or you catch me looking at you with a funny or strange expression, just know I’m doing my best to start letting go. Because I know you are ready.


Aug 26,2009

Selasa, 25 Agustus 2009

Jumat, 21 Agustus 2009

:: Terbuang ::


Ada seorang Kristen, namun ternyata saat ini ia sudah memilih untuk tidak lagi percaya pada Tuhan alias mengakui dirinya sebagai seorang atheis. Pasalnya, ia tidak tahan lagi menghadapi gunjingan sinis jemaat lainnya yang menuduhnya sebagai wanita penggoda suami orang. Bayangkan betapa ironisnya, ketika gereja dan jemaat sibuk berdoa agar ada banyak jiwa di luar yang bisa diselamatkan, tetapi yang terjadi malah sebaliknya, secara tidak langsung mengusir jiwa yang tertekan, terluka bahkan terhilang di dalam gedung gereja itu sendiri. Tuhan Yesus meminta kita untuk menggembalakan domba-dombaNya, bukan saja di dalam lingkungan kita saja, tapi kita juga diminta untuk bisa menjangkau jiwa agar diselamatkan. Sementara yang terjadi dalam kasus orang ini? Bukan hanya enggan menggembalakan, namun malah menghakimi dengan sikap-sikap sinis yang ditunjukkan secara nyata tepat di depan orangnya. Mungkin benar orang ini berdosa, mungkin juga tidak, kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi justru gereja dan jemaat yang harus merangkul dan membawanya bertobat jika memang benar tindakannya seperti apa yang dikatakan jemaat lainnya. Yang terjadi sungguh disayangkan. Ia tidak lagi percaya pada Tuhan Yesus, dan memilih untuk menjadi atheis. Bukannya ditolong, orang yang jiwanya butuh diselamatkan malah semakin terhempas dan terbuang.

Mahatma Gandhi pada suatu saat pernah begitu tertarik pada sosok Yesus. Ia mengakui secara langsung bahwa dalam Yesus ia menemukan kedamaian dan kekuatan. Yesus, menurut Gandhi, adalah sosok yang tidak pernah mengajarkan untuk balas dendam melainkan cinta kasih. Hal ini sangatlah menginspirasi dirinya. Tapi sungguh disayangkan apa yang ia alami dalam hidupnya. Bentuk-bentuk perbedaan ras dan diskriminasi berulang kali ia alami. Ia pernah ditendang keluar dari kereta api karena menolak untuk dipindahkan ke kabin kelas tiga, kabin yang diperuntukkan secara khusus untuk kaum kulit berwarna. Ia juga mengalami langsung bagaimana ekspansi kekuasaan dari negara-negara barat ke Asia dan Afrika, yang ironisnya malah mengatasnamakan Tuhan sebagai dalih. Hal ini sungguh mengecewakannya, dan akibatnya Gandhi tidak pernah tercatat mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Berulangkali manusia baik secara sadar atau tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyelamatkan jiwa terbuang. Padahal sebaliknya dalam banyak kisah yang tercatat dalam Alkitab, Tuhan menunjukkan bahwa Dia sanggup memakai siapapun dan tentunya mengaruniakan keselamatan. Saulus, sang pembantai orang Kristen yang kemudian menjadi rasul yang sangat berpengaruh. Daud masih sangat muda dan secara logika belum mengerti apa-apa ternyata bisa diubahkan Tuhan secara luar biasa. Matius tadinya adalah seorang pemungut cukai. Nuh dipakai pada usia lanjut. Dan begitu banyak lagi contoh bagaimana Tuhan menganugrahkan keselamatan kepada siapapun tanpa terkecuali.

Kisah perjumpaan Yesus dengan perempuan yang berzinah dalam Yohanes 7:53-8:11 memberi gambaran jelas bagaimana seharusnya kita bersikap. Ketika itu Yesus berhadapan dengan seorang wanita yang digiring orang-orang Farisi karena tertangkap basah akibat berbuat zinah. Secara hukum Taurat, sang wanita seharusnya dirajam sampai mati dengan batu. Tapi apa jawab Yesus? "
Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (Yohanes 8:7). Dan akhirnya semua orang Farisi pergi meninggalkan Yesus dan si wanita, dan wanita itu pun mendapat pengampunan. Jika Yesus saja memberi pengampunan kepada pendosa, mengapa manusia harus merasa begitu suci dan berhak untuk menghakimi? Paulus berkata "Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri." (Roma 14:4). Kita tidak dalam kapasitas untuk menghakimi hidup orang lain. Apa yang bisa kita lakukan adalah mendoakan dan melayani orang-orang yang jiwanya haus pertolongan dan jamahan Tuhan. Lebih lanjut Paulus pun mengatakan bahwa urusan menghakimi itu adalah urusan Tuhan, bukan kita. (Roma 12:9)

Bagi gereja dan jemaat, janganlah mengucilkan, menghempaskan dan membuang mereka yang terjatuh dalam dosa. Jika ini terjadi, bukannya membawa banyak jiwa dari luar, namun malah membuang jiwa dari dalam.
Ingatlah bahwa Tuhan Yesus mati bukan hanya untuk kita saja, namun bagi semua umat manusia di bumi ini tanpa terkecuali. Begitulah besarnya kasih Tuhan buat manusia. Jika kita memiliki kasih Yesus dalam hidup kita, bagaimana mungkin kasih itu lenyap tak berbekas ketika menghadapi orang-orang yang butuh pertolongan? Kedatangan Yesus ke dunia pun justru untuk menyelamatkan mereka yang "sakit". Yesus bukan datang untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. (Matius 9:13). Janganlah malah menjadi batu sandungan, karena jika itu yang terjadi, akibatnya akan sangat fatal bagi kita. Jangan membuang mereka, tapi kasihilah dan layani dengan kasih, sebab Tuhan sendiri pun mengasihi mereka. Jangan rampas kesempatan mereka untuk beroleh pemulihan dan keselamatan. Kasih Kristus akan tercermin secara nyata lewat sikap kita yang mau merangkul orang berdosa.

Di sisi lain, bagi mereka yang terjatuh dalam lumpur dosa, ingatlah bahwa manusia bisa mengecewakan, tapi Tuhan tidak. Janji Tuhan itu "ya" dan "amin". Dia akan selalu menepati janjiNya, termasuk menganugerahkan keselamatan kepada setiap orang, termasuk kita. Jika memang
kita mengalami hal ini, janganlah sampai mengalami kepahitan dan semakin jauh dari Tuhan. Tidak semua orang akan bersikap seperti itu. Hendaklah kita mampu berpikir bahwa kesempatan untuk bertobat tetap diberikan Tuhan kepada diri kita kapan saja. Tidak semua orang akan bersikap negatif. Pasti masih adaorang-orang yang akan dengan tulus membimbing kita untuk kembali ke jalan Tuhan. Dosa-dosa semerah kirmizi sekalipun bisa Tuhan pulihkan menjadi putih seperti salju. (Yesaya 1:18). Bertobatlah dan mohon pengampunan dari Tuhan, dengan hati lembut yang mau diubahkan, maka Tuhan siap menopang diri kita. Tuhan mau mengampuni sang wanita yang kedapatan berzinah, Tuhan mau mengampuni Daud yang kedapatan melakukan dosa perzinahan dan pembunuhan, Tuhan mau mengampuni Saulus bahkan memakainya secara luar biasa. Jika kepada mereka-mereka ini Tuhan mau, kepada kita pun Dia bersedia!



p.s : thx yah buat email-nya :)