Selasa, 08 Desember 2009
:: Sepertinya ::
:: Creative Thinking::
Kamis, 26 November 2009
:: Sepenuhnya Milik-mu ::
Jumat, 06 November 2009
Kamis, 05 November 2009
:: Magic Words ::
Selasa, 03 November 2009
:: Kesenangan v. Kebahagiaan ::
~ Bertrand Russell (1872 – 1970), filsuf & matematikawan Inggris,
peraih Nobel Literatur 1950
~ Benjamin Disreali (1804 – 1881), negarawan Inggris
* * *
Kita sering confuse memahami kesenangan dan kebahagiaan. Kesenangan dankebahagiaan membingungkan bagi kita, dan karenanya mungkin mengakibatkan pengertian yang keliru. Banyak orang menyamakan kesenangan dengan kebahagiaan, dan menganggap kesenangan sebagai kebahagiaan, dan sebaliknya. Kalau begitu, apa itu kesenangan dan kebahagiaan?
Coba kita ingat, hal-hal yang mungkin pernah kita lakukan, misalya: main game berjam-jam; melihat pemandangan alam yang indah; makan minum enak di restoran; tidur-tiduran sampai tengah hari di hari sabtu karena libur kerja; menonton sinetron kesukaan di televisi dsb...
Coba kita ingat lagi, misalnya: membesarkan seorang anak dengan penuh perhatian; memberikan bantuan rutin biaya sekolah kepada seorang siswa yang tidak mampu; mendamaikan satu keluarga yang hampir cerai-berai menjadi rukun bersatu; menjadi teman berbagi bagi seseorang yang punya masalah serius; membina relasi yang baik dengan seseorang, teman, tetangga, atau orangtua.
Bagaimana kita memaknainya? Kesenangan biasana merupakan apa yang kita alami selama berlangsungnya kegiatan itu. Sedangkan kebahagiaan adalah apa yang kita alami ketika melakukannya dan utamanya setelah melakukan tindakan itu. Bisa dikatakan, kebahagiaan lebih mendalam dan menetap.
kesenangan agak berpusat kepada diri sendiri, sedangkan kebahagiaan mengarah ke luar diri kita, kepada orang lain, walaupun mungkin itu terjadi tidak secara langsung, tapi yang jelas hasilnya adalah demi kebaikan orang lain.
Sering juga kita beranggapan bahwa kehidupan yang menyenangkan dan bebas dari penderitaan, itulah kebahagiaan. Padahal, untuk menuju kebahagiaan, sering melibatkan kesulitan, kesusahan, penderitaan, dan sejenisnya. Dan karenanya banyak orang yang menghindarinya dan akibatnya semakin jauh dari kebahagiaan.
Kesenangan itu sementara, dan tidak perlu banyak usaha. Kebahagiaan berlangsung lama, mungkin sampai akhir hayat. Kebahagiaan membutuhkan usaha. Aeschylus berkata,"Happiness is a choice that requires effort at times."
Kebahagiaan juga mengandung dimensi intelektual dan spiritual. Bukan seluruh aksi intelektual merupakan kebahagiaan, tapi aksi kebajikan yang bermuara pada kebahagiaan itu. Dengan demikian kebahagiaan berkaitan erat juga dengan pikiran dan dunia batin seseorang."Happiness is an inner state of well being. A state of well being enables you to profit from your highest: thoughts, wisdom, intelligence, common sense, emotions, health, and spiritual values in your life," demikian kata Lionel Ketchian.
Albert Einstein, filsuf dan fisikawan kesohor itu pernah menuliskan, "If you want to live a happy life, tie it to a goal, not to things." Pertanyaan bagi kita adalah, "Apa yang menjadi tujuan hidup kita?"
:-)
* * *
* * *
"Kapan bahagia?"
"Jika cukup!"
~ Anthony de Mello (1931 - 1987)
Jumat, 23 Oktober 2009
:: Pecundang vs Pemenang ::
"Seorang pecundang
tak tahu apa yang akan dilakukannya bila kalah,
tetapi
sesumbar apa yang akan dilakukannya bila menang.
Sedangkan,
pemenang
tidak berbicara apa yang akan dilakukannya bila ia menang,
tetapi
tahu apa yang akan dilakukannya bila kalah."
~ Eric Berne
Kamis, 22 Oktober 2009
:: Mengapa Membuat Jurnal? ::
"We do not write because we want to;
we write because we have to. "
~ Somerset Maugham
* **
"Writing is its own reward. "
~ Henry Miller
Yang aku tahu, membuat jurnal atau semacamnya sangat berfaedah bagi jiwa. Bahkan dalam kondisi kesedihan atau dukacita yang mendalam, bahkan amarah yang berapi-api, jika perasaan itu dituliskan, maka kesedihan dan amarah kita bisa semakin terkendali, dan lama-kelamaan hilang, dan akhirnya menyehatkan diri seseorang.
Jurnal yang aku maksud di sini, bukan harus jurnal formal, seperti jurnalis atau wartawan atau akademisi atau ilmuwan atau filsuf. Cukuplah dengan menuliskannya dalam coretan-coretan kecil di buku diari atau agenda kita.
Membuat jurnal juga akan membuat diri kita aware dengan waktu. Dengan tulisan, kita seperti bisa melihat diri kita kemarin. Kalau ada tulisan kita setahun lalu, kita bisa melihat diri kita setahun lalu. Bagaimana cara kita menulis dan bagaimana perasaan kita terhadap sesuatu. Begitupun kalau kita menuliskan sesuatu dua tahun lalu, dan ketika kita membacanya lagi, kita bisa melihat pengertian dan pemahaman kita dua tahun lalu terhadap sesuatu suatu masalah dan cara kita memandangnya.
Yang lebih hebat, pernah aku membaca ide dari seorang penulis, William Faulkner yang berkata, "Kita belum benar-benar mengerti, sebelum kita mampu menuliskannya."
Senin, 21 September 2009
:: Jangan Menjadi Fotocopian ::
Don't die a copy."
- John Mason
* * *
Pagi ini, aku membaca sebuah postingan email tentang menjadi diri sendiri. Sebelum sempat membaca postingan email lain, aku mendapatkan ungkapan di atas dan merenungkannya dengan saksama. Ungkapan singkat itu, sangat menarik dan menggelitik.
Aku jadi teringat dengan tulisan Anthony de Mello, S. J., penulis dari India. De Mello, pernah berkata, kebanyakan manusia mulai lahir, anak-anak, remaja, menikah, dewasa, bahkan sampai mati, tanpa pernah sadar. Mungkin sepertinya perkataan de Mello terlalu keras, tapi kalau kita cermati lebih dalam, ada benarnya bahkan kalau kita dalami lebih serius dan jujur mungkin saja kita memang seperti itu.
De Mello, misalnya sering mengungkapkan bahwa sering kita mengatakan hal-hal sebagai diri kita, padahal itu hal-hal bukan diri kita. Misalnya sering saja kita membawakan diri kita, tapi sebetulnya yang kita anggap diri kita adalah orangtua kita, sahabat kita, orang yang kita hormati, idola kita, angan-angan kita.
Kita sering mengasosiasikan diri kita dengan orang lain. Bahkan untuk memilih sesuatu pun mungkin saja kita langsung menentukannya hanya karena itu pendapat orangtua kita, pendapat orang lain, siapa pun itu. Ada orang yang mencoba dirinya menjadi orang lain.
Tapi yang lebih menarik adalah orang-orang yang mencoba dirinya menjadi bukan dirinya. Ini bisa semacam imitasi dari orang lain. Atau lari dari dirinya.
Memang benar, kita sangat pantas dan ada baiknya mencoba yang lebih baik, lebih bagus dalam kehidupan ini. Dalam memutuskan sesuatu yang penting, kita memang memerlukan referensi, patokan, panduan dan sejenisnya. Tapi itu tetaplah referensi. Demikian juga dengan berpikir. Pemikiran sudah banyak dan pasti banyak juga yang sangat hebat. Tapi kita harus tetap punya pemikiran sendiri.
Sabtu, 19 September 2009
:: Suatu Sore Bersama Cosby ::
Memang acaranya adalah komedi. Tapi bukan hanya keluarga saja yang tertawa... tetapi terutamanya penonton. Tampak bahwa keluarga itu terbuka dan demokratis.
Keluaga Cosby berkulit berwarna, atau tepatnya adalah berkulit hitam atau negro. Di Amerika, warna kulit inilah yang sering menjadi bahasan. Sering acara itu dikritik. Dan ironisnya yang mengkritik biasanya justru bukan dari kulit putih atau orang-orang hispanik. Tapi dari kalangan kulit hitam sendiri.
Rabu, 16 September 2009
:: Roots and Wings ::

"Two great things you can give your children:
one is Roots,
the other is Wings."
- Hodding Carter
Pertama kali mengetahui ungkapan Roots and Wings ini, aku sangat kagum karena pilihan kata dan metaforanya. Kemudian beberapa minggu setelah kekaguman itu, akupun berbagi cerita dengan beberapa orang temanku yang kebanyakan sudah menjadi orangtua. Orangtua yang bertugas untuk mengajari dan membimbing anak-anaknya. Pembicaraan kamipun berkisar tentang pendidikan, khususnya pendidikan anak-anak, pendidikan anak yang dimulai dari rumah, dari keluarga, oleh ayah-ibunya. Baru kemudian pendidikan di sekolah.
Banyak orangtua mengeluh tentang anak zaman sekarang yang 'tidak seperti dulu'. Dulu katanya, siswa segan kepada guru. Siswa sangat menghormati guru-gurunya. Sebaliknya, anak sekarang dipandang tidak disiplin, gampang patah semangat, mudah putus asa, suka hura-hura, tidak mau mengambil tanggung jawab, serta tidak hormat kepada guru dan orangtua. Tapi apakah benar demikian?
Setelah sekian lama aku merenungi ungkapan tersebut, aku mulai dapat mencerna apa yang dimaksud dengan akar dan sayap itu. Awalnya,aku mendapatkan ide itu dari seorang temenku yang kini bermukim di Australia. Dan akupun bercerita dengannya tentang masalah tersebut. Dengan kebaikan hatinya, temenkupun kemudian mengirimi aku sebuah buku yang sangat luar biasa, satu karya dari Jay B. McDaniel. Dan pemahamanku semakin diperdalam dengan mendapatkan pencerahan yang sangat bagus dari Jay B. McDaniel.
Dalam buku tersebut disebutkan, "Dalam mendampingi anak-anak, Engkau harus memberi mereka Akar dan Sayap. Engkau harus membuat anak-anak menanamkan fondasi yang kuat dan merasa aman. Mereka harus menghayati grounded to the earth dan to know where home is, misalnya. Tapi Engkau juga harus memberi kemampuan to think new thoughts, to feel new feelings, dan to be able to fly in new directions."
Dan berikut sekelumit pembicaraan McDaniel dan Levy,
"Two great things you can give your children:
one is Roots,
the other is Wings."
- Hodding Carter
Pertama kali mengetahui ungkapan Roots and Wings ini, aku sangat kagum karena pilihan kata dan metaforanya. Kemudian beberapa minggu setelah kekaguman itu, akupun berbagi cerita dengan beberapa orang temanku yang kebanyakan sudah menjadi orangtua. Orangtua yang bertugas untuk mengajari dan membimbing anak-anaknya. Pembicaraan kamipun berkisar tentang pendidikan, khususnya pendidikan anak-anak, pendidikan anak yang dimulai dari rumah, dari keluarga, oleh ayah-ibunya. Baru kemudian pendidikan di sekolah.
Banyak orangtua mengeluh tentang anak zaman sekarang yang 'tidak seperti dulu'. Dulu katanya, siswa segan kepada guru. Siswa sangat menghormati guru-gurunya. Sebaliknya, anak sekarang dipandang tidak disiplin, gampang patah semangat, mudah putus asa, suka hura-hura, tidak mau mengambil tanggung jawab, serta tidak hormat kepada guru dan orangtua. Tapi apakah benar demikian?
Setelah sekian lama aku merenungi ungkapan tersebut, aku mulai dapat mencerna apa yang dimaksud dengan akar dan sayap itu. Awalnya,aku mendapatkan ide itu dari seorang temenku yang kini bermukim di Australia. Dan akupun bercerita dengannya tentang masalah tersebut. Dengan kebaikan hatinya, temenkupun kemudian mengirimi aku sebuah buku yang sangat luar biasa, satu karya dari Jay B. McDaniel. Dan pemahamanku semakin diperdalam dengan mendapatkan pencerahan yang sangat bagus dari Jay B. McDaniel.
Dalam buku tersebut disebutkan, "Dalam mendampingi anak-anak, Engkau harus memberi mereka Akar dan Sayap. Engkau harus membuat anak-anak menanamkan fondasi yang kuat dan merasa aman. Mereka harus menghayati grounded to the earth dan to know where home is, misalnya. Tapi Engkau juga harus memberi kemampuan to think new thoughts, to feel new feelings, dan to be able to fly in new directions."
Dan berikut sekelumit pembicaraan McDaniel dan Levy,
"Kalau kita beri anak itu sayap, bagaimana kalau dia lari lepas?", tanya McDaniel setengah bercanda, setengah serius.
"Dia tidak akan lari, karena dia punya akar yang menjaganya?" sahut Levy.
"Kalau memang lepas dan tidak kembali?", tanya McDaniel lagi. McDaniel langsung serius karena saat itu dia sedang membesarkan dua orang anaknya.
Kemudian Levy berkata, "Engkau harus mengambil risiko itu!"
Levy melanjutkan, "Mungkin saja anak-anak mencederai akarnya dengan sayapnya. Tapi kita tetap harus memberi mereka sayap karena tanpa itu mereka tidak dapat bertumbuh; mereka mungkin seperti tercekik atau mati lemas. Jadi berikan mereka Sayap untuk terbang dan Akar sebagai penuntun untuk dipelihara. Untuk itulah sebenarnya orangtua ada."
By: Novie
Kamis, 27 Agustus 2009
Today is my son's first full day as 17-year-old

Sometimes it is such a shock to see him walking into a room. I see him shaking hands and conversing comfortably with other adults and I have to remind myself: He is a man now.
It is a hard fact for a mother to accept. I still think of the toddler who fell asleep every night with a soft sponge and an airplane toy in each hand. I think of him, fresh from the bath, running around in Batman and Superman pajamas; and of him kissing his new baby sisters (he has 2 sisters) on the head when we brought them home from the hospital. (I also remember years later when I was pregnant with his little sister. He asked how the baby got in my stomach, and when I told him, I remember the happy look on his face. He often brought up the subject because he wants a younger brother.)
I remember his first day of school and him being shy and tense, and running up and down the school yard and small soccer field, not to mention falling down, singing at his elementary school graduation and earning assignments for taking care new students at the student camps and orientations, and little kids on the Vacation Bible School in his junior year.
But now he is at 17. I know I should be proud. I know this is exactly what I signed on to do when I got pregnant – raise a man or woman to be independent, responsible, mature and self-sufficient. But now, that the time is nearing when he’ll leave home one day, next year. I get teary and want to cling to every minute he is still here with us.
Happy birthday, Philip! We couldn’t be prouder of you. But please, take it easy on your older daddy and mom’s instant creativities and thoughts. Also don’t get tired with our life-lesson lectures. I want you to know that dad and I celebrate each of your accomplishment and step you take with you, but I wonder if I will ever be able to separate the little boy you were from the man you have become now (pardon me for this, son). So if I get teary sometimes for no reason or you catch me looking at you with a funny or strange expression, just know I’m doing my best to start letting go. Because I know you are ready.
Selasa, 25 Agustus 2009
Jumat, 21 Agustus 2009
:: Terbuang ::

Ada seorang Kristen, namun ternyata saat ini ia sudah memilih untuk tidak lagi percaya pada Tuhan alias mengakui dirinya sebagai seorang atheis. Pasalnya, ia tidak tahan lagi menghadapi gunjingan sinis jemaat lainnya yang menuduhnya sebagai wanita penggoda suami orang. Bayangkan betapa ironisnya, ketika gereja dan jemaat sibuk berdoa agar ada banyak jiwa di luar yang bisa diselamatkan, tetapi yang terjadi malah sebaliknya, secara tidak langsung mengusir jiwa yang tertekan, terluka bahkan terhilang di dalam gedung gereja itu sendiri. Tuhan Yesus meminta kita untuk menggembalakan domba-dombaNya, bukan saja di dalam lingkungan kita saja, tapi kita juga diminta untuk bisa menjangkau jiwa agar diselamatkan. Sementara yang terjadi dalam kasus orang ini? Bukan hanya enggan menggembalakan, namun malah menghakimi dengan sikap-sikap sinis yang ditunjukkan secara nyata tepat di depan orangnya. Mungkin benar orang ini berdosa, mungkin juga tidak, kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi justru gereja dan jemaat yang harus merangkul dan membawanya bertobat jika memang benar tindakannya seperti apa yang dikatakan jemaat lainnya. Yang terjadi sungguh disayangkan. Ia tidak lagi percaya pada Tuhan Yesus, dan memilih untuk menjadi atheis. Bukannya ditolong, orang yang jiwanya butuh diselamatkan malah semakin terhempas dan terbuang.
Mahatma Gandhi pada suatu saat pernah begitu tertarik pada sosok Yesus. Ia mengakui secara langsung bahwa dalam Yesus ia menemukan kedamaian dan kekuatan. Yesus, menurut Gandhi, adalah sosok yang tidak pernah mengajarkan untuk balas dendam melainkan cinta kasih. Hal ini sangatlah menginspirasi dirinya. Tapi sungguh disayangkan apa yang ia alami dalam hidupnya. Bentuk-bentuk perbedaan ras dan diskriminasi berulang kali ia alami. Ia pernah ditendang keluar dari kereta api karena menolak untuk dipindahkan ke kabin kelas tiga, kabin yang diperuntukkan secara khusus untuk kaum kulit berwarna. Ia juga mengalami langsung bagaimana ekspansi kekuasaan dari negara-negara barat ke Asia dan Afrika, yang ironisnya malah mengatasnamakan Tuhan sebagai dalih. Hal ini sungguh mengecewakannya, dan akibatnya Gandhi tidak pernah tercatat mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Berulangkali manusia baik secara sadar atau tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyelamatkan jiwa terbuang. Padahal sebaliknya dalam banyak kisah yang tercatat dalam Alkitab, Tuhan menunjukkan bahwa Dia sanggup memakai siapapun dan tentunya mengaruniakan keselamatan. Saulus, sang pembantai orang Kristen yang kemudian menjadi rasul yang sangat berpengaruh. Daud masih sangat muda dan secara logika belum mengerti apa-apa ternyata bisa diubahkan Tuhan secara luar biasa. Matius tadinya adalah seorang pemungut cukai. Nuh dipakai pada usia lanjut. Dan begitu banyak lagi contoh bagaimana Tuhan menganugrahkan keselamatan kepada siapapun tanpa terkecuali.
Kisah perjumpaan Yesus dengan perempuan yang berzinah dalam Yohanes 7:53-8:11 memberi gambaran jelas bagaimana seharusnya kita bersikap. Ketika itu Yesus berhadapan dengan seorang wanita yang digiring orang-orang Farisi karena tertangkap basah akibat berbuat zinah. Secara hukum Taurat, sang wanita seharusnya dirajam sampai mati dengan batu. Tapi apa jawab Yesus? "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (Yohanes 8:7). Dan akhirnya semua orang Farisi pergi meninggalkan Yesus dan si wanita, dan wanita itu pun mendapat pengampunan. Jika Yesus saja memberi pengampunan kepada pendosa, mengapa manusia harus merasa begitu suci dan berhak untuk menghakimi? Paulus berkata "Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri." (Roma 14:4). Kita tidak dalam kapasitas untuk menghakimi hidup orang lain. Apa yang bisa kita lakukan adalah mendoakan dan melayani orang-orang yang jiwanya haus pertolongan dan jamahan Tuhan. Lebih lanjut Paulus pun mengatakan bahwa urusan menghakimi itu adalah urusan Tuhan, bukan kita. (Roma 12:9)
Bagi gereja dan jemaat, janganlah mengucilkan, menghempaskan dan membuang mereka yang terjatuh dalam dosa. Jika ini terjadi, bukannya membawa banyak jiwa dari luar, namun malah membuang jiwa dari dalam.Ingatlah bahwa Tuhan Yesus mati bukan hanya untuk kita saja, namun bagi semua umat manusia di bumi ini tanpa terkecuali. Begitulah besarnya kasih Tuhan buat manusia. Jika kita memiliki kasih Yesus dalam hidup kita, bagaimana mungkin kasih itu lenyap tak berbekas ketika menghadapi orang-orang yang butuh pertolongan? Kedatangan Yesus ke dunia pun justru untuk menyelamatkan mereka yang "sakit". Yesus bukan datang untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. (Matius 9:13). Janganlah malah menjadi batu sandungan, karena jika itu yang terjadi, akibatnya akan sangat fatal bagi kita. Jangan membuang mereka, tapi kasihilah dan layani dengan kasih, sebab Tuhan sendiri pun mengasihi mereka. Jangan rampas kesempatan mereka untuk beroleh pemulihan dan keselamatan. Kasih Kristus akan tercermin secara nyata lewat sikap kita yang mau merangkul orang berdosa.
Di sisi lain, bagi mereka yang terjatuh dalam lumpur dosa, ingatlah bahwa manusia bisa mengecewakan, tapi Tuhan tidak. Janji Tuhan itu "ya" dan "amin". Dia akan selalu menepati janjiNya, termasuk menganugerahkan keselamatan kepada setiap orang, termasuk kita. Jika memang kita mengalami hal ini, janganlah sampai mengalami kepahitan dan semakin jauh dari Tuhan. Tidak semua orang akan bersikap seperti itu. Hendaklah kita mampu berpikir bahwa kesempatan untuk bertobat tetap diberikan Tuhan kepada diri kita kapan saja. Tidak semua orang akan bersikap negatif. Pasti masih adaorang-orang yang akan dengan tulus membimbing kita untuk kembali ke jalan Tuhan. Dosa-dosa semerah kirmizi sekalipun bisa Tuhan pulihkan menjadi putih seperti salju. (Yesaya 1:18). Bertobatlah dan mohon pengampunan dari Tuhan, dengan hati lembut yang mau diubahkan, maka Tuhan siap menopang diri kita. Tuhan mau mengampuni sang wanita yang kedapatan berzinah, Tuhan mau mengampuni Daud yang kedapatan melakukan dosa perzinahan dan pembunuhan, Tuhan mau mengampuni Saulus bahkan memakainya secara luar biasa. Jika kepada mereka-mereka ini Tuhan mau, kepada kita pun Dia bersedia!
Rabu, 05 Agustus 2009
Senin, 27 Juli 2009
:: Just Beautiful ::
Senin, 20 Juli 2009
:: Biru Rindu-ku ::
Aku merindukan gelisahmu yang tanpa malu malu
Aku merindukan birumu yang mengundang hati untuk bernyanyi
Aku rindukan lembayungmu yang membawa cintaku mengharubiru
Aku rindukan rindumu yang telah sempurna bersembunyi dalam hidupku
Selasa, 05 Mei 2009
:: Ah, kamu! ::
Kadang
Lelah kuhitung
Rinduku padamu
dan pegal kutulis
Sayangku padamu
Namun
Enggan ku beristirahat
'tuk mencintaimu
Walau barang sedetikpun
Sampai kapanpun!
*Novie*
Rabu, 29 April 2009
:: Ingat Kamu ::
Karena raga tlah terkurung pesonamu
Hasrat pun enggan bergegas
Karena cinta tlah melumpuhkan hatiku
Kasih,
Pinjami aku wangi tubuhmu,
Kelak esok ku kembalikan dengan sejuta kecup yang bergelora
Juga pendar asmara yang tak kan sirna
Kamis, 16 April 2009
:: Bercinta ::
Sampai lupa diri
Bulan pun menutup mata
Bintang mengungsikan sinarnya
Bahkan Tuhan pun pura-pura buta
Sampai pagi tiba
Matahari pun menyapa
; ayo bercinta lagi, katanya.
Minggu, 05 April 2009
:: KaNgeN ::
kucari senyummu di balik dedaunan
tidak kutemukan ...
Hmm.. siapa tahu tersangkut di sela-sela rerantingan
tidak juga kutemukan,
atau mungkin jatuh di antara rerumputan...
sama, tidak juga kutemukan
ah, aku kangen!
senyummu juga kecupanmu
Jumat, 06 Maret 2009
:: Hmm!! ::
PENGUMUMAN :
DICARI::
Laki-laki dengan wajah manis yang telah berani merampas waktu-waktu tidurku, dan senyumnya yang buatku susah sekali memejamkan mata di kala malam. Kalau ketemu dengannya, tolong bilang: aku jatuh hati padanya!
Minggu, 01 Maret 2009
:: The Black Swan ::

Peledakan gedung di New York 9/11, kemunculan Hitler, kehancuran Rusia, krisis finansial Asia, kehancuran dotcom, suksesnya buku Harry Potter, suksesnya Google, adalah kejadian kejadian langka yang tidak terbayangkan sebelumnya. Ada tiga elemen dari kejadian tersebut: Hal tersebut tidak terduga sebelumnya, akibat kejadian tersebut sangat besar dalam perubahan kehidupan kita, dan setelah terjadinya kejadian, kita akan mudah menjelaskannya.
Semua orang selalu berkata bahwa angsa selamanya adalah putih. Ini adalah fakta yang tak terbantahkan berdasarkan fakta dilapangan beratus ratus tahun. Ketika ditemukan benua Australia, orang menemukan adanya angsa hitam. Ternyata memang sangat jarang ada angsa yang hitam, satu dari sekian juta. Penemuan ini menggambarkan betapa piciknya keterbatasan kita akan observasi kita dan rentannya ilmu pengetahuan. Yang dibutuhkan untuk membuktikan kesalahan teori semua angsa itu putih, hanyalah seekor angsa hitam. Data empiris beratus tahun tidak berguna, tapi satu kejadian kecil membuktikan kesalahannya.
Penulis Nassim Nicholas Taleb adalah seorang pialang dari Chicago, berasal dari Lebanon, MBA dari Wharton dan Ph.D dari University of Paris. Beliau mengajarkan teori probabilitas, ketidakpastian, dan problem keberuntungan. Buku pertamanya „Fooled by Randomness“ menjadi best seller, dan telah diterjemahkan dalam 20 bahasa. Saya terpesona dengan buku tersebut, yang berargumen bahwa sebagian besar kesuksesan seseorang, termasuk Warren Buffet ataupun Bill Gates besar sebabnya karena faktor „randomness“ atau keberuntungan. Lama saya tunggu buku keduanya, dan ternyata The Black Swan juga mentakjubkan. Buku ini telah berada cukup lama di The New York Times Best Seller list, dan memberikan sebuah pemikiran baru yang tajam.
Ditulis sangat cerdas, dalam narasi yang cukup enak dibaca, walaupun kadang terasa cukup berat dan membutuhkan konsentrasi untuk mencernanya. Tentu tidak semudah anda membaca „Who moved my cheese“ yang bisa tuntas dalam 3 jam baca. Buku ini membutuhkan seminggu buat saya mengunyahnya habis. Kadang ada bagian yang terasa agak berat dan agak berkepanjangan, tetapi secara keseluruhan terasa nikmat dan mencerahi.
Bayangkan anda adalah seekor anak ayam, yang sejak menetas dipelihara dengan baik oleh pemiliknya, setiap hari diberi makan oleh keluarga yang baik ini. Ketika mereka datang membawa makanan anda mendekatinya dengan penuh suka cita. Belum pernah anda lihat keluarga ini melakukan hal yang buruk kepada anda. Hidup adalah kenikmatan, dan keluarga ini adalah pemberi kehidupan. Sampai suatu saat, ketika keluarga ini mau membuat pesta, anda dijadikan satapan makan malam. Bisakan anda membayangkan tangan orang baik hati yang memberi makan setiap hari dan selalu berbaik hati ini yang akan menelikung leher anda dan memakan daging anda? Dalam grafik, pada sekian ratus hari pertama kelakuan keluarga ini selalu menunjukan kebaikan yang luar biasa, hanya pada satu hari terakhirlah mereka menyembelih anda. Penyembelihan ini adalah sebuah kejadian Angsa Hitam. Kejadian langka yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Ketika kita tanyakan kepada orang, teknologi apa yang sekarang paling penting dalam kehidupan kita dan sedang berkembang pesat. Jawaban terbanyak adalah personal komputer, internet dan laser. Ketiganya adalah teknologi yang tidak pernah dipikirkan orang dimasa lalu. Ketiganya adalah Angsa Hitam. Hal yang tidak diprediksi oleh orang sebelumnya. Kita bukanlah mahluk yang ahli dalam memprediksi masa depan kita, para ahlipun ternyata malah lebih keliru lagi dalam melihat kedepan. Cobalah lihat film2 kuno yang menggambarkan masa depan, apakah sama dengan kita sekarang? Bedanya jauh sekali, karena semakin ahli seseorang semakin salah pula prediksinya.
Pencarian hal yang diketahui sering membuahkan penemuan baru yang sama sekali tidak berhubungan dengan pencarian itu. Contohnya, orang2 Spanyol mencari cara baru mencapai India, yang ditemukan adalah benua Amerika. Para ahli di Pfizer mencari obat jantung, yang ditemukan Viagra. Alexander Fleming pun menemukan penisilin dari sebuah kebetulan belaka. Laser teknologi yang dipakai untuk CD, operasi mata, data storage, dan teknologi terhebat kedepan, dulunya hanya sebuah mainan teknologi sinar yang ditemukan Charles Townes yang ingin membelah sinar, dan sering ditertawakan teman2nya karena ketidak bergunaan temuannya itu.
Sangatlah mudah menjelaskan sesuatu yang telah terjadi, karena dengan mudah kita akan menggabungkan satu hal dengan hal lainnya secara naratif. Kita menggabungkan titik titik ketidak jelasan dengan sebuah cerita yang menyambungkannya. Tetapi tidak mudah memprediksi sesuatu yang belum terjadi.
Angsa hitam, kejadian langka yang positif selalu baik untuk diharapkan, tetapi kejadian langka besar yang negatif harus selalu disikapi supaya kita siap bila terjadi. Janganlah melihat pada hal yang tepat dan jalur yang direncanakan, biasakan untuk memantau trend dengan perspektif padangan yang lebih lebar. Selalu perhatikan akan adanya kesempatan, tangkap dan manfaatkan semuanya, kadang ada satu yang datang yang membawa perubahan besar dalam kehidupan kita. Tidak perlu kita mengikuti secara tepat akan perencanaan masa depan karena masa depan sangatlah tidak pasti dan perencanaan setepat apapun akan memiliki kesalahan prediksi yang besar.
Randomness, ketidaksengajaan, terjadi lebih sering daripada dugaan kita. Dalam kehidupan pribadi ataupun bisnis kita, sering sebuah bisnis datang dan pergi tanpa sebuah pattern yang pasti. Kesuksesan dan kegagalan juga sering dipengaruhi oleh randomness. Sikap hidup kita yang berani terbuka dalam berharap walau tetap waspada, akan membuat kita lebih sigap dan siap dalam memanfaatkan Black Swan.
Ditulis dengan panjang lebar, disertai banyak anekdot yang enak dan menarik, buku inipun terasa sebagai sebuah perjalanan yang nikmat untuk dibaca seminggu. Mirip degan pemikiran buku „ The Long Tail“, ataupun „Blink“, yang membuat kita menjadi berbeda setelah membacanya, buku inipun merubah cara kita melihat Angsa Hitam, kejadian yang tidak terduga dan berpengaruh besar dalam merubah hidup kita. Buku ini jadi bacaan enak untuk mengasah otak kita kembali menjadi cerdas, dan pikiran kita menjadi lebih jernih.-Maret, dalam perjalanan panjang menuju rumah-

