Senin, 21 September 2009

:: Jangan Menjadi Fotocopian ::



"You were born an original.
Don't die a copy."

- John Mason


* * *

Pagi ini, aku membaca sebuah
postingan email tentang menjadi diri sendiri. Sebelum sempat membaca postingan email lain, aku mendapatkan ungkapan di atas dan merenungkannya dengan saksama. Ungkapan singkat itu, sangat menarik dan menggelitik.

Aku jadi teringat dengan tulisan Anthony de Mello, S. J., penulis dari India. De Mello, pernah berkata,
kebanyakan manusia mulai lahir, anak-anak, remaja, menikah, dewasa, bahkan sampai mati, tanpa pernah sadar. Mungkin sepertinya perkataan de Mello terlalu keras, tapi kalau kita cermati lebih dalam, ada benarnya bahkan kalau kita dalami lebih serius dan jujur mungkin saja kita memang seperti itu.

De Mello, misalnya sering mengungkapkan bahwa
sering kita mengatakan hal-hal sebagai diri kita, padahal itu hal-hal bukan diri kita. Misalnya sering saja kita membawakan diri kita, tapi sebetulnya yang kita anggap diri kita adalah orangtua kita, sahabat kita, orang yang kita hormati, idola kita, angan-angan kita.

Kita sering mengasosiasikan diri kita dengan orang lain.
Bahkan untuk memilih sesuatu pun mungkin saja kita langsung menentukannya hanya karena itu pendapat orangtua kita, pendapat orang lain, siapa pun itu. Ada orang yang mencoba dirinya menjadi orang lain.

Tapi yang lebih menarik adalah orang-orang yang mencoba dirinya menjadi bukan dirinya. Ini bisa semacam imitasi dari orang lain. Atau lari dari dirinya.

Memang benar, kita sangat pantas dan ada baiknya mencoba yang lebih baik, lebih bagus dalam kehidupan ini. Dalam memutuskan sesuatu yang penting, kita memang memerlukan referensi, patokan, panduan dan sejenisnya. Tapi itu tetaplah referensi. Demikian juga dengan berpikir. Pemikiran sudah banyak dan pasti banyak juga yang sangat hebat.
Tapi kita harus tetap punya pemikiran sendiri.





BY: Novie

Sabtu, 19 September 2009

:: Suatu Sore Bersama Cosby ::




Pernah menonton The Cosby Show? Itu adalah acara televisi yang sangat populer tahun 80-an. Acara itu sangat banyak penontonnya. Dan aku adalah salah satu penonton setianya :) dan The cosby show -pun disiarkan hingga beberapa tahun disalah satu stasiun televisi negeri kita. Bahkan acara paling favorit televisi sepanjang 5 tahun berturut-turut di Amerika Serikat, mulai tahun 1985-86 sampai dengan tahun 1989-90.

Acara dengan menampilkan keluarga Huxtable, sebuah keluarga menengah-atas dengan Bill Cosby sebagai kepala keluarga. Keluarga itu menampilan kejadian-kejadian biasa pada sebuah keluarga, tapi 'dikemas' menjadi cerita menarik dengan komentar-komentar unik dan sering tidak terduga, yang membuat sesama anggota keluarga tertawa dan gembira.

Memang acaranya adalah komedi. Tapi bukan hanya keluarga saja yang tertawa... tetapi terutamanya penonton. Tampak bahwa keluarga itu terbuka dan demokratis.

Keluaga Cosby berkulit berwarna, atau tepatnya adalah berkulit hitam atau negro. Di Amerika, warna kulit inilah yang sering menjadi bahasan. Sering acara itu dikritik. Dan ironisnya yang mengkritik biasanya justru bukan dari kulit putih atau orang-orang hispanik. Tapi dari kalangan kulit hitam sendiri.

Banyak komentar bahwa acara itu adalah ilusi dan mengejek negro sendiri, karena banyak anggapan, bahwa tidak ada kehidupan orang negro seperti itu. Kehidupan seperti itu adalah mimpi. Kehidupan seperti itu tidak menggambarkan kehidupan para keluarga kulit hitam yang sebenarnya. Keluarga Cosby selalu dalam suasana keakraban, kehangatan, dan kegembiraan. Umpama, sering terjadi seorang anak melakukan kesalahan atau melanggar peraturan, tapi cara ibunya melihat anak yang melakukan kesalahan menyebabkan anak mengaku, dan ibunya memaafkan dengan melihat dengan hati seorang ibu, sehingga mereka akrab lagi.

Mungkin saja kejadian seperti itu sangat langka bagi orang kulit hitam itu sendiri. Mereka jarang melihat bahkan mungkin saja memang tidak pernah ada kehidupan keluarga yang seperti itu. Tapi setidaknya The cosby show banyak memberikan dampak yang positif bagi keluarga-keluarga di America pada saat itu.

Dan bagi aku sendiri, The Cosby Show bukan sekedar acara komedi, tetapi juga memberikan inspirasi serta pesan moral bagi setiap anggota keluarga.

Hmm... seperti hari ini, aku khusus mencari di youtube bahkan menontonnya bersama ketiga anakku :))


By: Novie

Rabu, 16 September 2009

:: Roots and Wings ::



"Two great things you can give your children:
one is Roots,
the other is Wings.
"
- Hodding Carter


Pertama kali mengetahui ungkapan Roots and Wings ini, aku sangat kagum karena pilihan kata dan metaforanya. Kemudian beberapa minggu setelah kekaguman itu, akupun berbagi cerita dengan beberapa orang temanku yang kebanyakan sudah menjadi orangtua. Orangtua yang bertugas untuk mengajari dan membimbing anak-anaknya. Pembicaraan kamipun berkisar tentang pendidikan, khususnya pendidikan anak-anak, pendidikan anak yang dimulai dari rumah, dari keluarga, oleh ayah-ibunya. Baru kemudian pendidikan di sekolah.

Banyak orangtua mengeluh tentang anak zaman sekarang yang 'tidak seperti dulu'. Dulu katanya, siswa segan kepada guru. Siswa sangat menghormati guru-gurunya. Sebaliknya, anak sekarang dipandang tidak disiplin, gampang patah semangat, mudah putus asa, suka hura-hura, tidak mau mengambil tanggung jawab, serta tidak hormat kepada guru dan orangtua. Tapi apakah benar demikian?

Setelah sekian lama aku merenungi ungkapan tersebut, aku mulai dapat mencerna apa yang dimaksud dengan
akar dan sayap itu. Awalnya,aku mendapatkan ide itu dari seorang temenku yang kini bermukim di Australia. Dan akupun bercerita dengannya tentang masalah tersebut. Dengan kebaikan hatinya, temenkupun kemudian mengirimi aku sebuah buku yang sangat luar biasa, satu karya dari Jay B. McDaniel. Dan pemahamanku semakin diperdalam dengan mendapatkan pencerahan yang sangat bagus dari Jay B. McDaniel.


Dalam buku tersebut disebutkan, "Dalam mendampingi anak-anak, Engkau harus memberi mereka Akar dan Sayap. Engkau harus membuat anak-anak menanamkan fondasi yang kuat dan merasa aman. Mereka harus menghayati
grounded to the earth dan to know where home is, misalnya. Tapi Engkau juga harus memberi kemampuan to think new thoughts, to feel new feelings, dan to be able to fly in new directions."

Dan berikut sekelumit pembicaraan McDaniel dan Levy,

"Kalau kita beri anak itu sayap, bagaimana kalau dia lari lepas?", tanya McDaniel setengah bercanda, setengah serius.

"Dia tidak akan lari, karena dia punya akar yang menjaganya?" sahut Levy.

"Kalau memang lepas dan tidak kembali?", tanya McDaniel lagi. McDaniel langsung serius karena saat itu dia sedang membesarkan dua orang anaknya.

Kemudian Levy berkata, "Engkau harus mengambil risiko itu!"
Levy melanjutkan, "Mungkin saja anak-anak mencederai akarnya dengan sayapnya. Tapi kita tetap harus memberi mereka sayap karena tanpa itu mereka tidak dapat bertumbuh; mereka mungkin seperti tercekik atau mati lemas. Jadi berikan mereka
Sayap untuk terbang dan Akar sebagai penuntun untuk dipelihara. Untuk itulah sebenarnya orangtua ada."


By: Novie