Rabu, 28 Januari 2009

:: Mencintaimu ::




Mencintaimu bagai membaca buku.

melahap kata per kata dalam diam,
memulainya dari halaman pertama, kedua, baru selanjutnya...
melambungkan imajinasiku ke kotak-kotak udara yang kosong dan mengisinya perlahan,
dan selalu menyimpan halaman akhirnya rapat-rapat...
karena aku hanya mau hari ini,
dan membiarkan hari esok mampir dengan sampulnya sendiri.

Mencintaimu bagai menikmati indahnya sore.
melukis guratan warna-warninya di awan pikiranku,
menghirup wanginya yang tersisa sepanjang hari,
serta merasakan hangatnya melembut di relung hati...
dan terulang ketika esok ia kembali.

Mencintaimu bagai menghirup kopi.
tidak terlalu panas dan tidak membuatku melepuh
hitam dan kental berpadu membuatku candu
yang selalu meninggalkan ampas
seperti pasokan kasih yang tidak pernah habis
dan selalu meninggalkan noda coklat
pertanda aku selalu ada....

Mencintaimu bagai anugrah.
yang datang kepada siapapun yang berserah
diterima oleh setiap yang merasa tidak layak
dan selalu pantas untuk yang tidak berhak
karena cinta sendiri anugrah
apa hakmu untuk menolak?

Mencintaimu bagai kehabisan kata.
yang ada hanya rasa
selalu hangat dan membara,
dan membuatku selalu ingin bercinta.

*kepada dirimu, hanya dirimu, jangan tanya siapa. selalu menulis selama aku ada.
(Theoresia yang mencatat cinta di halaman ini)



Minggu, 25 Januari 2009

:: Bila Harus Menunggu ::




Kata orang, menunggu merupakan pekerjaan paling menjemukan dan mematikan kreativitas. Menunggu adalah ketidakpastian. Menunggu berarti menghabiskan detik demi detik tanpa melakukan apa pun. Sedemikian buruk makna menunggu di benak manusia. Maka kita pun berusaha keras membunuh kehampaan saat menunggu. Misalnya sambil antri di bank atau mesin atm, tak jarang kita membaca majalah, sibuk sms-an, menelepon teman, atau mendengarkan musik.

Dalam skala lebih besar, menunggu juga bisa jadi bencana tersendiri. Menunggu jodoh yang tak kunjung hadir, menunggu anak yang belum juga dianugerahkan Sang Khalik, menunggu untuk lepas dari status pengangguran, hingga menunggu kesembuhan orangtua yang sedang sakit parah. Kesabaran yang awalnya diniatkan, perlahan pupus dan meranggas. Hingga kemudian menyisakan amarah, sikap skeptis dan sinis, ketidakpercayaan diri, bahkan berbuntut ketidakpercayaan pada orang lain dan antisosial. Jika orang optimis mengatakan "jika orang lain bisa, mengapa aku tidak bisa?". Maka orang yang lelah menunggu akan mengatakan "mengapa selalu orang lain, bukan aku?."

Saatnya untuk tidak tunduk pada menunggu. Ada banyak cara untuk mengusir jenuh dan ketidakpastian dalam menunggu. Pertama, jangan pernah menaruh kata "menunggu" di benak kita. Singkirkanlah jauh-jauh. Katakan pada diri sendiri bahwa kita sedang menjalani babak-babak dalam kehidupan yang menyimpan banyak kejutan di dalamnya. Ada yang menyenangkan, ada pula yang menyakitkan dan membingungkan. Rasakan saja sensasinya.
Just like a box of chocolates, we never know what we'll get..but we can have fun with that.

Kedua, ini saatnya kita menyibukkan diri dengan segala sesuatu yang bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Jika selama ini kita merasa belum pernah bahagia atau merasa sangat senang, mungkin kita belum pernah berbagi dengan orang lain. Ada suatu perasaan super puas yang menjelma manakala kita mendahulukan kepentingan orang lain dan berbuat sesuatu bagi lingkungan. Jika kita tidak percaya, ini saatnya untuk mencoba.

Ketiga, kita harus belajar konsisten dan disiplin. Dua sikap itu amat penting untuk menguatkan diri kita kala diterpa rasa sedih karena 'tertinggal' dari yang lain. Dengan konsisten dan disiplin, kita menyadari bahwa diri kita berhak dan wajib bertambah baik dari hari ke hari, tak peduli sekeruh apapun suasana hati kita. Jangan sampai karena sedih yang tak berujung, kita meratapi diri tanpa henti, lalu berhenti mengejar kebaikan. Dan justru saat kita menunggu, kita akan melihat bagaimana ikatan pertemanan dan persaudaraan yang hakiki dapat menumbuhkan semangat dan menguatkan kita untuk tak pesimis menatap hidup.


p.s : Buat Ifan & Yenny, justru kadang Tuhan memberikan banyak hal yang berharga ketika kita sedang 'menunggu' :)







Jumat, 16 Januari 2009

:: Kala Cinta Menggoda ::

* Aku magnet dalam hidupmu,
Yang terus mengganggu dan membuat malam mu selalu terjaga,
Yang tak dapat kau cegah.... bahkan membuatmu semakin menggila.

**Aku juga menangkap getar yang tak biasa
Yang terus membuatku bertanya....
Dan sungguh tak terpahami dengan logika.

Cinta jangan kau datang menggoda,
Pergilah dan sembunyikan aku...
Lepaskan dan jangan buatku terluka.



*Novie*

Sabtu, 03 Januari 2009

:: Women Influence ::

















People are often unreasonable, illogical, and self-centered; Forgive them anyway.

If you are kind, people may accuse you of selfish, ulterior motives; Be kind anyway.

If you successful, you will win some false friends and some true enemies; Succeed anyway.

If you are honest and frank, people may cheat you; Be honest and frank anyway.

What you spend years building, someone could destroy overnight; Build anyway.

If you find serenity and happiness, they may be jealous; Be happy anyway.

The good you do today, people will often forget tomorrow; Do good anyway.

Give the world the best you have and it may just never be enough; Give the world the best you have anyway.

You see, in the final analysis, it's all between you and God; It was never between you and them anyway.

-Mother Theresa-


Jumat, 02 Januari 2009

:: Menulis itu adalah.... ::



"Writing is about making choices"
Aku mendengar kalimat itu terucap dalam salah satu dialog di film Dawson's Creek. Dialog itu terjadi antara seorang dosen dengan mahasiswinya. Sang dosen berusaha menyemangati si mahasiswi agar tidak menyerah dalam melanjutkan tulisan yang telah dibuatnya. Karena tanpa ia sadari, sebenarnya ia seorang penulis yang --kata sang dosen-- bagus. Paling tidak, ia berhasil memukau sang dosen lewat tulisan yang dibuatnya.

Padahal, si mahasiswi tidak suka kenyataan itu. Tulisan yang dibuatnya adalah kisah nyata yang terjadi pada dirinya. Ia tidak suka melanjutkannya karena ia tidak suka pada kenyataan yang terjadi pada dirinya: ditinggalkan oleh cowok yang disukainya.

Sang dosen berkata, "Menulis itu seperti melanjutkan hidupmu."
Melanjutkan tulisan itu seperti melanjutkan kisah cintanya yang menggantung. Ia pikir kisah cintanya sudah selesai, tetapi sang dosen malah berkata, “Cerita (tulisan) ini berakhir tepat di saat seharusnya ia dimulai.”

Bagi si mahasiswi, melanjutkan tulisan tersebut adalah hal yang sulit. Karena itu berarti ia juga harus menata hatinya dan merumuskan seperti apa ending kisah cintanya. Maka ia harus mulai membuat pilihan-pilihan. Tidak hanya pilihan-pilihan penokohan, alur, dan ending tulisannya, melainkan juga pilihan-pilihan nyata dalam kisah cintanya.

Menulis memang seperti itu: membuat pilihan-pilihan. Pun buat aku, menulis merupakan proses kreatif tersendiri yang melibatkan banyak pilihan. Lalu mengapa sampai saat ini aku memilih untuk senantiasa mengakrabi tulisan? Satu hal yang terpikir adalah kenyataan bahwa lewat tulisan, aku benar-benar menemukan siapa aku sebenarnya. Ini memerlukan penggalian yang cukup dalam terhadap masa laluku, kepribadian dasar aku, keinginan-keinginanku, cara aku berekspresi, bahkan terhadap cara aku bergaul.

Cukup kompleks? Memang. Karena buatku, menulis adalah suatu aktivitas yang lebih dari sekedar merangkai huruf demi huruf, menjadi seuntai tulisan bermakna.
Lewat tulisan aku bisa mengekspresikan hal-hal apa saja yang aku mau. Tanpa batasan-batasan rasa malu, rendah diri, atau putus asa.
Dan menulis itu adalah...suatu bentuk terapi buat diri sendiri....