Senin, 27 Oktober 2008
I Have a Dream
The dream was always running ahead of me. To catch up, to live for a moment in unison with it, that was the miracle. (Anais Nin)
To accomplish great things, we must not only act, but also dream; not only plan, but also believe. (Anatole France)
I have learned, that if one advances confidently in the direction of his dreams, and endeavors to live the life he has imagined, he will meet with a success unexpected in common hours. (Henry David Thoreau)
You cannot dream yourself into a character; you must hammer and forge yourself one. (James A.Froude)
Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn't do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover. (Mark Twain)
If you lose hope, somehow you lose the vitality that keeps life moving, you lose that courage to be, that quality that helps you go on in spite of it all. And so today I still have a dream. (Martin Luther King,Jr)
Minggu, 26 Oktober 2008
:: Laskar Pelangi ::

Laskar Pelangi adalah salah satu film berkualitas yang diproduksi oleh anak bangsa. Film yang mengedepankan aspek cerita yang 'seharusnya' dapat menyentuh nurani para penikmat film.
Dan ini hanyalah salah satu gambar dari sekian banyak ke-ironis-an buruknya masalah pendidikan yang ada di Indonesia.
Melalui film ini, seharusnya dapat dijadikan bahan renungan bagi para pemegang kebijakan,terutama bidang pendidikan. Untuk melihat bagaimana keadaan nyata kualitas pendidikan, para pendidik, dan orang yang terdidik yang terlibat dalam suatu perputaran kehidupan.
Film Laskar Pelangi bukanlah film yang sekedar mengumbar cerita. Kalau boleh aku sebut, ini sebagai film yang 'menampar' muka-muka orang yang tak berhati nurani. Terutama bagi para pemegang kebijakan pendidikan, para koruptor, penyedot hak-hak rakyat, para pembohong sang orator-orator media, dan juga bagi para 'anak bangsa' yang sudah teracuni oleh budaya-budaya permisif.
Ratusan guru berdedikasi seperti Bu Muslimah kini terlantar tanpa tahu kejelasan nasib mereka. Ribuan anak-anak sekualitas Ikal, Lintang, dan teman-teman sekelasnya meratap tanpa tahu kejelasan nasib pendidikan mereka. Ruangan sekolah mereka kotor, atap sekolah mereka berlubang, gedung sekolah mereka hampir ambruk, namun pemegang kebijakan masih sibuk membuat perut mereka membesar.
Kalau Pendidikan kita sangat baik, mungkin Ikal tak perlu jauh-jauh ke Sorborne untuk menuntut ilmu. Atau mungkin tak perlu si jenius Lintang putus sekolahnya dan akhirnya berakhir hanya sebagai nelayan.
Lintang hanyalah salah satu yang mewakili dari jutaan anak-anak di Indonesia yang putus sekolah. Meskipun ia memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Namun karena kemiskinan, ia tidak meneruskan sekolah.
Belum lagi gambaran sistem pendidikan kita yang lebih berkiblat pada materi pelajaran semata. Pada hafalan dan bukan pemahaman. Mentransfer pelajaran dengan tekanan kepada siswa, bukan lagi dengan hati.
Selain itu pula, melalui film ini ada banyak pesan yang bisa kita dapati. Mulai dari persahabatan, kerja keras, cinta dan masalah sosial lainnya.
Namun ada satu pesan yang sangat menggelitik aku, yaitu; bahwa kepintaran tidak dinilai dari angka-angka sebagaimana system pendidikan yang diterapkan saat ini.
Dan juga bagaimana seharusnya peran seorang guru. Di film ini guru digambarkan sebagai sosok yang open-minded, yang memperlakukan muridnya sebagai manusia, dan tidak bermental feodal (menganggap dirinya paling pintar karena merasa dirinya pintar)
Karena bagi aku pribadi, Pendidikan adalah masalah dedikasi dan cinta.Pada akhirnya, sekali lagi aku mengucapkan selamat kepada Riri Riza, Mira Lesmana dan Salman Aristo atas kesuksesan film ini. Semoga film ini dapat memberikan efek positif dalam membuat trend cerita film layar lebar.
Jumat, 17 Oktober 2008
:: CaTataN KeciL di HaRi Ini ::
Aku tinggal punya rindu yang membenalu padamu….
October 17,2008 14:28wib
Selasa, 14 Oktober 2008
:: Heart-licious ::
Lagi pula hati itu labil sifatnya, mudah sekali berubah-ubah tabiatnya.
Hati juga sangat elastis... Dia bisa menyempit hingga sebesar zarah, bisa pula meluas melebihi cakrawala.
Katanya pula hati juga bisa lebih lembut dari salju... Tetapi dapat juga mengeras melampaui intan permata.
Oleh sebab demikian sifatnya... Harus ada yang membimbing hati.
Agar tak sempit melilit... Tidak mengerak keras seperti lava yang menjelma seperti granit.
Biarkan ia cerlang bercahaya...juga tak redup gulita seperti malam.
Rabu, 08 Oktober 2008
:: Terbang ::
karena telah ada banyak ruang pada jalanku yang terpaksa kututupi meski belum terisi,
karena ada banyak waktu yang kulepas meski harus meninggalkan jejak...
Maka hari ini aku ingin terbang dan berteriak tanpa kehilangan suara...
Dan membiarkan diriku tercerabut dari akar hidupku, agar tak kehilangan satu detik yang menjelmakanku menjadi satu bentuk...
dan karena bila esok aku mencair dan berubah wujud,
Aku memilih membeku pada sepenggal langkah di depanku...
October 8,satu tahun lalu (Dan satu episode aneh itu pun usai pada penghujung malam yang melelahkan)
Minggu, 05 Oktober 2008
:: CurHat? Apa Perlu? ::
Memang aku selalu di cap oleh teman-temanku, aku cenderung sangat tertutup. (walaupun aku sendiri merasa tidak seperti itu). Tapi itulah hidup... kita kan tidak bisa menilai diri kita dengan 'kacamata' kita sendiri.
Hingga sampai disatu titik, aku mencoba merenung serta berdialog dengan diriku sendiri. Apa salahnya sih jika aku berbagi rasa dengan teman-ku sendiri? lalu apa juga yang menyebabkan aku tidak mau membuka diri? Malu? Gengsi? atau terlalu curiga terhadap orang lain? Curhat dengan teman 'mungkin' bisa mengobati juga melegakan... mungkin saja...
Lalu akupun mulai mendefinisikan Curhat menurut versi aku sendiri. Apa sih Curhat itu?? Apa perlu?? Curhat = Curahan hati atau Cucuran hati?? Apapun itu artinya, yang pasti itu merujuk ke satu makna, yaitu: menceritakan apa yang kita rasakan ke orang lain. Mau senang mau tidak senang... pokonya cerita saja. Bagi sebagian orang, curhat bisa jadi ajang buat melepas stress. Tapi jangan salah, curhat pada orang yang kurang tepat, waktu yang tidak pas atau cara yang kurang tepat, bisa jadi bukan melepas stress. Malah yang ada mungkin menambah stress :)
Dan setelah dipikir-pikir lagi... aku koq malah tetap memilih untuk tidak curhat yah?? 'Mungkin' pengalaman hidup ‘mengajarkan’ aku bahwa perasaan sebaiknya tidak terlalu diumbar. Ekspresi diri hanya akan menempatkan kita di puncak menara kurus tinggi di lokasi terbuka di bawah terik dan terang matahari, posisi yang begitu rapuh dan gamang
Pertanyaanya, Bagaimana sih curhat yang baik dan benar?? Ini mungkin bisa beda-beda buat tiap orang. Tapi ada satu hal yang harus aku tekankan... Curhat juga bisa identik dengan 'sampah'. Dan kita harus dapat membuat sampah ini menjadi menjadi sampah yang bisa didaur ulang dan dimanfaatkan orang. Atau minimal ketika kita membuang sampah ini, pastikan kita buang di tempat yang tidak mengotori halaman orang.
Jadi, selagi curhat itu tidak menyehatkan... apakah perlu kita curhat??
p.s : Thx buat semua perhatian & sayang kalian buatku. Mungkin aku hanya butuh waktu... ;))