Minggu, 26 Oktober 2008

:: Laskar Pelangi ::


Laskar Pelangi adalah salah satu film berkualitas yang diproduksi oleh anak bangsa. Film yang mengedepankan aspek cerita yang 'seharusnya' dapat menyentuh nurani para penikmat film.
Dan ini hanyalah salah satu gambar dari sekian banyak ke-ironis-an buruknya masalah pendidikan yang ada di Indonesia.

Melalui film ini, seharusnya dapat dijadikan bahan renungan bagi para pemegang kebijakan,terutama bidang pendidikan. Untuk melihat bagaimana keadaan nyata kualitas pendidikan, para pendidik, dan orang yang terdidik yang terlibat dalam suatu perputaran kehidupan.

Film Laskar Pelangi bukanlah film yang sekedar mengumbar cerita. Kalau boleh aku sebut, ini sebagai film yang 'menampar' muka-muka orang yang tak berhati nurani. Terutama bagi para pemegang kebijakan pendidikan, para koruptor, penyedot hak-hak rakyat, para pembohong sang orator-orator media, dan juga bagi para 'anak bangsa' yang sudah teracuni oleh budaya-budaya permisif.

Ratusan guru berdedikasi seperti Bu Muslimah kini terlantar tanpa tahu kejelasan nasib mereka. Ribuan anak-anak sekualitas Ikal, Lintang, dan teman-teman sekelasnya meratap tanpa tahu kejelasan nasib pendidikan mereka. Ruangan sekolah mereka kotor, atap sekolah mereka berlubang, gedung sekolah mereka hampir ambruk, namun pemegang kebijakan masih sibuk membuat perut mereka membesar.

Kalau Pendidikan kita sangat baik, mungkin Ikal tak perlu jauh-jauh ke Sorborne untuk menuntut ilmu. Atau mungkin tak perlu si jenius Lintang putus sekolahnya dan akhirnya berakhir hanya sebagai nelayan.
Lintang hanyalah salah satu yang mewakili dari jutaan anak-anak di Indonesia yang putus sekolah. Meskipun ia memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Namun karena kemiskinan, ia tidak meneruskan sekolah.

Belum lagi gambaran sistem pendidikan kita yang lebih berkiblat pada materi pelajaran semata. Pada hafalan dan bukan pemahaman. Mentransfer pelajaran dengan tekanan kepada siswa, bukan lagi dengan hati.

Selain itu pula, melalui film ini ada banyak pesan yang bisa kita dapati. Mulai dari persahabatan, kerja keras, cinta dan masalah sosial lainnya.

Namun ada satu pesan yang sangat menggelitik aku, yaitu; bahwa kepintaran tidak dinilai dari angka-angka sebagaimana system pendidikan yang diterapkan saat ini.

Dan juga bagaimana seharusnya peran seorang guru. Di film ini guru digambarkan sebagai sosok yang open-minded, yang memperlakukan muridnya sebagai manusia, dan tidak bermental feodal (menganggap dirinya paling pintar karena merasa dirinya pintar)

Karena bagi aku pribadi, Pendidikan adalah masalah dedikasi dan cinta.

Pada akhirnya, sekali lagi aku mengucapkan selamat kepada Riri Riza, Mira Lesmana dan Salman Aristo atas kesuksesan film ini. Semoga film ini dapat memberikan efek positif dalam membuat trend cerita film layar lebar.




1 komentar:

Unknown mengatakan...

ciee, sekarang sdh jd pengamat film nih ye? hebat nek tulisan duh. salut!