Minggu, 25 Januari 2009
:: Bila Harus Menunggu ::
Kata orang, menunggu merupakan pekerjaan paling menjemukan dan mematikan kreativitas. Menunggu adalah ketidakpastian. Menunggu berarti menghabiskan detik demi detik tanpa melakukan apa pun. Sedemikian buruk makna menunggu di benak manusia. Maka kita pun berusaha keras membunuh kehampaan saat menunggu. Misalnya sambil antri di bank atau mesin atm, tak jarang kita membaca majalah, sibuk sms-an, menelepon teman, atau mendengarkan musik.
Dalam skala lebih besar, menunggu juga bisa jadi bencana tersendiri. Menunggu jodoh yang tak kunjung hadir, menunggu anak yang belum juga dianugerahkan Sang Khalik, menunggu untuk lepas dari status pengangguran, hingga menunggu kesembuhan orangtua yang sedang sakit parah. Kesabaran yang awalnya diniatkan, perlahan pupus dan meranggas. Hingga kemudian menyisakan amarah, sikap skeptis dan sinis, ketidakpercayaan diri, bahkan berbuntut ketidakpercayaan pada orang lain dan antisosial. Jika orang optimis mengatakan "jika orang lain bisa, mengapa aku tidak bisa?". Maka orang yang lelah menunggu akan mengatakan "mengapa selalu orang lain, bukan aku?."
Saatnya untuk tidak tunduk pada menunggu. Ada banyak cara untuk mengusir jenuh dan ketidakpastian dalam menunggu. Pertama, jangan pernah menaruh kata "menunggu" di benak kita. Singkirkanlah jauh-jauh. Katakan pada diri sendiri bahwa kita sedang menjalani babak-babak dalam kehidupan yang menyimpan banyak kejutan di dalamnya. Ada yang menyenangkan, ada pula yang menyakitkan dan membingungkan. Rasakan saja sensasinya. Just like a box of chocolates, we never know what we'll get..but we can have fun with that.
Kedua, ini saatnya kita menyibukkan diri dengan segala sesuatu yang bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Jika selama ini kita merasa belum pernah bahagia atau merasa sangat senang, mungkin kita belum pernah berbagi dengan orang lain. Ada suatu perasaan super puas yang menjelma manakala kita mendahulukan kepentingan orang lain dan berbuat sesuatu bagi lingkungan. Jika kita tidak percaya, ini saatnya untuk mencoba.
Ketiga, kita harus belajar konsisten dan disiplin. Dua sikap itu amat penting untuk menguatkan diri kita kala diterpa rasa sedih karena 'tertinggal' dari yang lain. Dengan konsisten dan disiplin, kita menyadari bahwa diri kita berhak dan wajib bertambah baik dari hari ke hari, tak peduli sekeruh apapun suasana hati kita. Jangan sampai karena sedih yang tak berujung, kita meratapi diri tanpa henti, lalu berhenti mengejar kebaikan. Dan justru saat kita menunggu, kita akan melihat bagaimana ikatan pertemanan dan persaudaraan yang hakiki dapat menumbuhkan semangat dan menguatkan kita untuk tak pesimis menatap hidup.
p.s : Buat Ifan & Yenny, justru kadang Tuhan memberikan banyak hal yang berharga ketika kita sedang 'menunggu' :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
iya bener!!!! sangat berharga.....! yang akan membukakan mata kita, apa makna sesungguhnya dari kata menunggu tersebut! thx sis!!!
Posting Komentar